Ketika mengucapkan kata Maaf,
ada sesuatu yang berpendar temaram di dalam kedua matanya.
Apakah itu kesungguhan hati atau
kekosongan makna, tidak satupun yang dapat mengenalinya.
Ketika mengucapkan kata Maaf,
yang satu tidak lebih tinggi dari lainnya.
Keduanya berdiri sama tinggi dan
duduk sama rendahnya.
Ketika mengucapkan kata Maaf,
di sana ada satu keyakinan untuk melangkah
bukan untuk yang lain, bukan untuk bergaya
melainkan untuk dirinya sendiri, untuk hatinyaApakah itu kesungguhan hatinya
yang mendorongnya mengucapkan kata itu
ataukah kekosongan makna
yang tersurat mendorongnya seperti itu
Kita tidak akan pernah tahu
II.
Ketika kata Maaf itu terucap,
satu menutup mata, dua menutup telinga
tiga berpaling, empat berteriak maling
Ketika kata Maaf terucap,
itulah yang ingin diperdengarkan kepada yang lain
kepada seorang akrab atau seorang asing
bukan karena hak dan kewajiban
hanya karena hatinya berkata demikian
Ketika kata Maaf terucap,
langit itu runtuh bukan karena dunia berguncang
langit itu runtuh dan menjadi permadani untuknya
untuk mereka
Ketika kata Maaf terucap,
kau dan aku berdiri sama tinggi, duduk sama rendah
yang satu tidak lebih mulia dari yang lainnya
Ketika Hatimu mengucapkan kata Maaf,
kepada dirimu
Apakah kau menutup kedua telingamu
dan berpaling dari suara Hatimu?
Diambil dari: "In Silence." (2007: milik pribadi).
No comments:
Post a Comment