Sunday, May 15, 2011

Rumahku, Banjirku

Sudah lebih dari dua dekade berlalu dan kami semua masih berada di sini. Bersama-sama menghadapi semua ini. Menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Seorang teman lama pernah bertanya, "Kenapa tetap tinggal di sana?"

Jawaban saya, "Karena hati kami berada di sana."

Hahaha. Semua kalimat itu diromantisasi, loh! Yah, itu memang kenyataan.
Saya malah bersyukur karena masih berada di sini bersama mereka. Dengan banyaknya perubahan yang terjadi dengan begitu cepat di sekeliling saya, saya masih memiliki tempat yang menerima saya apa adanya. Bahkan banjir yang selalu mampir setiap tahun pun saya syukuri. Saya bersyukur karena banjir yang datang tidak membahayakan dan hanya merepotkan. Bila dibandingkan dengan bencana banjir lain yang lebih parah, tentunya kunjungan diplomatik bangsa air ke daerah tempat tinggal saya ini patut disyukuri. Walaupun banyak orang mengatakan untuk tidak mengundang bencana. But hey, who did such thing anyway?
Air di teras rumah. Tinggi sekitar 20 cm. Di jalan, sekitar 70 cm dengan arus cukup deras.

Di sisi lain, saya masih menyimpan harapan bahwa kunjungan air yang akan datang berupa air yang bersih tanpa sampah. Dahulu ketika saya masih kanak-kanak, satu atau dua ekor ikan akan masuk ke dalam rumah. Saya dan adik saya berlomba-lomba menangkap ikan itu dengan suara tawa yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinga. Sekarang, tiada ikan. Sekarang, sampah sering terbawa arus kunjungan banjir ini.
Mengapa sulit sekali untuk membuang sampah ke tempat sampah yang tepat? Sungai bukanlah tempat yang tepat untuk sampah. Sampah akan menambah beban sungai itu. Sampah akan menimbulkan kerepotan dan kerugian bagi semua orang. Mungkin yang membuang sampah belum memahami bahwa satu tindakan kecilnya akan berdampak pada kehidupan orang lain. Memang ada banyak orang yang hidup dari memungut sampah di atas sungai. Namun keberadaan mereka tidak menjustifikasi tindakan membuang sampah sembarangan.
Saya masih menyimpan harapan bahwa sungai-sungai di sekeliling kita akan menjadi lebih baik. Siapakah yang akan mewujudkan hal itu? Kita, tentu saja. Apalah gunanya manusia kalau bukan untuk menjaga lingkungan dan sesamanya? Mari semuanya, kita belajar berdamai dengan lingkungan!
Semoga kita menjadi orang yang lebih baik dari pendahulu kita.  

No comments:

Post a Comment